
Oleh dr. H Minanur Rahman
Sanitary Landfill merupakan sistem pengelolaan atau pemusnahan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah. Inilah cara pengelolaan sampah yang umum di Indonesia, dengan menumpuk sampah di TPSA.
Di beberapa daerah masyarakat protes Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) yang meluber dan mencemari lingkungan. TPSA yang overload (melebihi batas) disebabkan karena volume sampah yang meningkat. Penyebabnya adalah kebanyakan sampah masih bercampur antara sampah organik dan anorganik. Hal ini karena masih banyak masyarakat yang tidak memilah sampah sebelum dibuang, sampah dibuang begitu saja. Seandainya masyarakat memilah sampah anorganik dari sampah organik maka masalah sampah lebih mudah diatasi.
Membuang sampah dengan menimbun di area terbuka TPSA adalah cara paling buruk dalam mengelola sampah. Cara tersebut akan menimbulkan pencemaran yang merugikan lingkungan. Sampah campuran yang ditimbun itu butuh puluhan tahun untuk terurai. Karena itu cara ini sudah ditinggalkan di negara-negara maju.
Indonesia harus segera menghentikan penimbunan sampah di TPSA dan segera memperbaiki cara pengelolaan sampah yang tidak mencemari lingkungan. Cara paling mudah adalah memilah sampah organik dan anorganik. Setiap rumah tangga wajib mengelola sampah organik dengan memasukkan ke dalam tanah atau lubang BIOPORI. Bisa juga dikelola menjadi pupuk kompos atau jadi makanan ternak atau hewan piaraan.
Sampah organik yang berasal dari sisa makanan, sisa tanaman, dan bangkai hewan adalah sampah yang bisa terurai secara alami. Sesungguhnya sampah organik bisa dikelola sendiri oleh setiap rumah tangga. Hanya dengan menanam sampah organik ke dalam tanah maka sampah organik ini bermanfaat menjadi pupuk yang menyuburkan tanah.
Sedangkan sampah anorganik merupakan sampah dari benda mati seperti besi, kaca, plastik, dan benda lain yang bukan dari makhluk hidup. Sampah anorganik tidak bisa terurai secara alami, karena itu perlu dikelola atau didaur ulang agar bisa digunakan sebagai bahan baku. Sampah anorganik inilah yang dibuang dimana selanjutnya akan dipungut oleh petugas sampah atau pemulung sampah. Kemudian sampah anorganik akan dipilah lagi sesuai jenis sampah. Sampah yang sudah dipilah ini bisa dijual ke pengepul untuk diolah menjadi bahan baku.
Sampah yang dibuang harus sudah terpisah antara sampah organik dan sampah anorganik. Petugas pengumpul sampah ada 2 jenis; ada yang khusus mengambil sampah organik dan ada petugas yang mengumpulkan sampah anorganik. Dengan demikian sampah organik tidak akan tercampur dengan sampah organik.
Bak penampung sampah berwarna KUNING untuk sampah ANORGANIK dan bak penampung sampah berwarna HIJAU untuk sampah ORGANIK. Masyarakat harus diajarkan untuk memasukkan sampah ke bak sampah yang benar. Dengan demikian sampah terpisah dengan benar. Sehingga petugas pengumpul sampah tidak keliru mengambil sampah.
Untuk mengelola sampah organik, masyarakat perlu diajarkan dan diajak untuk membuat lubang BIOPORI. Lubang BIOPORI adalah lubang tanah dangkal dengan kedalaman kurang dari 2 meter dengan diameter antara 10 cm hingga 100 cm. Besarnya lubang tergantung pada volume sampah yang akan ditimbun.
Lubang BIOPORI kecil berdiameter sekitar 10 – 20 cm dengan kedalaman 100 – 150 cm. Kemudian dimasukkan pipa paralon yang berlubang lubang yang berguna untuk air mengalir dan cacing masuk memakan sampah. Lubang BIOPORI ini setiap hari diisi sampah organik saja, tidak boleh tercampur sampah anorganik atau plastik. Lubang BIOPORI juga menampung air ketika hujan sehingga bisa terserap tanah dengan sempurna.
Lubang BIOPORI kecil dapat dibuat di halaman rumah, halaman kantor dan taman. Jarak antara lubang BIOPORI sekitar 1 sampai 2 meter. Setiap 3 bulan lubang BIOPORI perlu dicek apakah sudah penuh. Bila sudah penuh paralon bisa dicabut untuk digunakan di lubang yang baru.
Lubang BIOPORI juga bisa dibuat ukuran besar dengan diameter 100 cm dengan kedalaman 2 meter dan diberi penutup agar tidak dimasuki hewan. Lubang BIOPORI besar bisa untuk sampah organik dari beberapa rumah tangga. Selain untuk sampah lubang BIOPORI besar juga berfungsi seperti sumur resapan yang mampu menampung limpasan air hujan yang cukup banyak. Letak lubang BIOPORI besar tidak boleh terlalu dekat dengan sumber air atau sumur karena bisa mencemari. Lubang BIOPORI tidak boleh terlalu dalam agar air yang masuk akan terserap tanah (tidak menggenang). Air yang terserap tanah akan tersaring dengan sendirinya hingga kedalaman akuifer. Lubang BIOPORI besar tidak boleh dibuat di area yang jenuh air.(AM)



