Seni Menua Dengan Bahagia

Oleh dr. H Minanur Rahman
Seiring waktu bertambah usia manusia tentu mengalami proses penuaan. Ada yang beruntung berumur panjang, tetap sehat, dan berbahagia. Umur panjang bukanlah faktor genetik atau keberuntungan, melainkan kebiasaan kebiasaan kecil yang konsisten dilakukan.
Saya amati banyak orang panjang umur itu punya kesamaan ;
Yang pertama masalah makan. Mereka makan teratur, tidak banyak, menu apa saja (tidak pilih pilih), lebih suka makanan masak sendiri, senang makan bersama, sering berpuasa dan selalu berdoa sebelum makan.
Yang kedua masalah tidur. Mereka tidak pernah/jarang mengeluh sulit tidur, selalu menyempatkan tidur siang, tidur malam tidak melewati jam 10, dan selalu bangun dini hari sebelum subuh.
Yang ketiga masalah pekerjaan. Mereka tidak berhenti bekerja meskipun sudah pensiun. Pekerjaan-pekerjaan ringan yang dilakukan antara lain pekerjaan rumah tangga, mengerjakan hal-hal rutin secara teratur, pekerjaan tidak selalu berkaitan dengan penghasilan, dan mandiri tidak tergantung pada orang lain.
Yang keempat masalah komunikasi dan informasi. Dalam percakapan mereka lebih banyak menyimak dan mencoba mengerti, tidak banyak bicara, tidak egois, dan tidak suka membicarakan orang lain. Mereka senang menonton televisi yang menghibur, tidak suka nonton infotainment atau perdebatan, tidak suka film horor. Akan tetapi senang film yang menggambarkan kehidupan keluarga.
Yang kelima masalah pergaulan sosial. Mereka tidak banyak terlibat kegiatan organisasi atau perkumpulan tetapi tetap hadir bila ada undangan, suka menolong dan bersedekah, peduli pada orang yang ditimpa musibah, dan selalu menjaga silaturahmi dengan keluarga, kerabat dan sahabat.
Ke-enam masalah kesehatan. Mereka nampak selalu sehat bugar, jarang sakit, paling sakit ringan demam flu. Jarang mengeluh pusing atau kelelahan. Badan selalu bugar tidak kurus dan tidak pula kelebihan berat badan karena rutin berolahraga.
Ketika sedang sakit tidak banyak mengeluh, segera berobat, dan tidak ada kekhawatiran terhadap sakitnya.. Mereka jarang menggunakan BPJS, cenderung memilih ke dokter yang dia percaya. Bagi mereka iuran BPJS adalah sedekah untuk orang lain yang sakit.
Ke-tujuh masalah pasangan. Mereka pasangan yang setia dan saling mencintai. Jarang berselisih apalagi bertengkar. Mereka terbiasa berbincang setiap saat berduaan. Pak Su secara teratur menggauli istrinya dan berusaha membuat istrinya orgasme. Mereka teratur berolahraga dan rekreasi bersama.
Ke-delapan masalah harta kekayaan. Mereka tidak lagi bernafsu mengumpulkan harta. Sebagian besar urusan bisnisnya sudah didelegasikan ke anaknya atau orang lain. Mereka lebih senang berbagi pengalaman, bersedekah dan membantu orang-orang yang kurang beruntung.
Ke-sembilan masalah ibadah. Mereka sangat rajin beribadah, berdoa dan membaca Al-Qur’an. Akhlak dan perilakunya sangat baik, sangat sabar, tidak pernah marah, mudah memaafkan, selalu berkata jujur, tidak suka membicarakan keburukan, dan selalu mengingatkan tentang kebaikan dan kebenaran.
Ke sepuluh masalah anak-anak. Mereka telah mengasuh, mendidik, membimbing, dan mengantarkan semua anak-anaknya menjadi seseorang yang lebih baik dan beruntung. Mereka tidak menjanjikan harta waris kepada anak-anak melainkan mendorong anak-anaknya untuk bisa mandiri, maju berdikari.
Kebiasaan Baik Pada Lansia Bahagia
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa sebagian orang justru semakin bersinar di usia 60 dan 70 tahun, sementara yang lain terlihat kehilangan arah dan semangat?
Pengalaman pensiun dini di usia 58 menjadi titik balik penting bagi banyak orang. Transisi mendadak dari kehidupan yang sibuk ke waktu luang tanpa struktur sering kali terasa membingungkan. Namun dari situ pula muncul satu pelajaran berharga: ‘menua dengan baik’ adalah sebuah seni yang membutuhkan kesadaran dan kebiasaan yang disengaja.
Orang-orang yang bahagia di usia 60-an dan 70-an bukan sekadar “mengalir begitu saja”. Mereka secara aktif membentuk versi terbaik diri mereka melalui kebiasaan-kebiasaan berikut.
1. Terus Belajar Tanpa Beban Harus Sempurna
Banyak orang mengira belajar hal baru hanya milik anak muda. Padahal, orang bahagia di usia senja justru menikmati proses belajar tanpa tekanan hasil. Mereka tidak mengejar kesempurnaan, melainkan pengalaman. Baik belajar alat musik, bahasa asing, melukis, atau memahami teknologi baru, tujuan utamanya adalah menjaga pikiran tetap aktif dan rasa ingin tahu tetap hidup.
2. Menciptakan Ritual Harian yang Memberi Makna
Ritual sederhana—seperti menulis jurnal sebelum tidur, menikmati kopi pagi, atau berjalan santai sore hari—memberi struktur tanpa membuat hidup terasa kaku.
Di usia lanjut, ritual menjadi jangkar emosional yang membantu seseorang merasakan alur waktu dengan lebih bermakna. Ini bukan kewajiban, melainkan kesenangan yang dipilih dengan sadar.
3. Selektif dalam Bersosialisasi
Lansia bahagia di usia 60–70 tahun telah menguasai seni berkata “tidak” tanpa rasa bersalah. Mereka menyadari bahwa waktu dan energi terlalu berharga untuk dihabiskan pada relasi atau acara yang menguras emosi. Mereka memilih berinvestasi pada hubungan yang benar-benar bermakna. Kualitas menggantikan kuantitas.
4. Tetap Terhubung dengan Generasi Lebih Muda
Interaksi lintas generasi membantu menjaga perspektif tetap segar. Lansia bahagia senang berbagi pengalaman sekaligus belajar cara pandang baru dari generasi muda.
5. Menggerakkan Tubuh dengan Penuh Empati
Lansia tak memaksakan tubuh seperti di usia muda, mereka memilih bergerak dengan penuh kesadaran. Fokusnya bukan lagi pada performa maksimal, melainkan mobilitas jangka panjang dan kenyamanan. Entah itu berjalan kaki, berenang, yoga ringan, atau tai chi, mereka merayakan apa yang masih bisa dilakukan tubuh dan beristirahat tanpa rasa bersalah saat dibutuhkan.
6. Menumbuhkan Keheningan Batin
Banyak lansia bahagia menemukan nilai dari diam dan hadir sepenuhnya melalui sholat, meditasi dan doa. Diantara mereka ada yang meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju desa berkebun dan menikmati keindahan alam. Mereka belajar bahwa ketenangan bukanlah kekosongan. Keheningan memberi ruang untuk bernapas tanpa tuntutan produktivitas.
7. Mengubah Hubungan dengan Barang Kepemilikan
Lansia bahagia menyadari bahwa semakin sedikit barang, sering kali semakin lapang hidup terasa. Mereka menjadi lebih selektif dalam menyimpan yang berguna atau bermakna, dan melepaskan sisanya. Bagi mereka, warisan terbaik bukanlah tumpukan benda, melainkan kenangan, nilai hidup, dan kebijaksanaan.
8. Mempraktikkan Rasa Syukur yang Sehat
Rasa syukur yang dijalani bukanlah kepositifan palsu. Mereka tidak menutup mata terhadap tantangan, kehilangan, atau keterbatasan yang datang bersama usia. Namun di saat yang sama, mereka tetap mampu menghargai hal-hal kecil: secangkir kopi hangat, percakapan yang tulus, atau hari yang berjalan dengan baik. Syukur menjadi cara menjaga perspektif, bukan menyangkal realitas.(am/*)