Rabu, 21 Oktober 2026
spot_img

𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐀𝐬𝐚𝐩 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐲𝐢 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐓𝐫𝐮𝐤 𝐁𝐞𝐫𝐩𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧

𝘖𝘭𝘦𝘩 𝘔𝘶𝘪𝘴 𝘋𝘦𝘣𝘦
𝘞𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘗𝘦𝘮𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪
Di sebuah jalur lintas yang biasa saja, di antara debu jalan dan hembusan angin pulau Sumbawa, sebuah truk berpendingin melaju tenang. Di atas kertas, ia membawa kebutuhan warga — sayuran segar, daging, barang harian. Siapa pun yang melihatnya akan berpikir: inilah denyut nadi perekonomian yang sehat dan berjalan. Namun di balik pintu-pintu boksnya yang tertutup rapat, tersembunyi sesuatu yang lain. Bukan makanan yang menyehatkan badan, melainkan ribuan batang rokok tanpa pita cukai — barang yang seharusnya tidak ada di sana¹.
Ada yang patut  direnungkan dari kejadian ini. Bukan semata-mata karena jumlahnya yang besar — dua ratus tiga puluh enam ribu batang dalam satu kali penangkapan — melainkan karena caranya masuk. Penyelundup tidak lagi menggunakan jalan gelap atau kendaraan mencurigakan. Mereka meminjam wajah yang terhormat dari logistik kita sendiri. Mereka menyusup ke dalam sistem yang kita bangun untuk melayani rakyat. Dan di sanalah bahayanya sesungguhnya bermula: ketika yang seharusnya melindungi, justru dimanfaatkan untuk menyembunyikan.
Angka-angka yang tercatat di Kantor Bea Cukai Sumbawa hingga pertengahan tahun ini sungguh membuat kita menelan ludah. Lebih dari dua juta batang rokok ilegal berhasil diamankan. Kerugian negara melampaui dua miliar rupiah. Itu baru di satu kabupaten. Bayangkan jika kita meluaskan pandangan ke seantero NTB, ke setiap kota kecamatan, ke setiap jalan kecil yang tak dijaga ketat. Berapa miliar rupiah yang diam-diam lenyap, seolah ditelan kabut di atas perairan kita?
Uang itu bukan angka di atas kertas. Ia adalah jalan yang belum selesai dibangun di desa pedalaman. Ia adalah ruang kelas yang masih kurang layak. Ia adalah obat yang kadang tak tersedia di puskesmas terdekat. Ketika rokok ilegal beredar tanpa pita cukai, yang hilang bukan sekadar pendapatan negara — yang hilang adalah masa depan kita sendiri, yang dicuri perlahan dan tak terasa, di bawah bayang-bayang harga yang terlihat lebih murah.
Dan yang menyedihkan: kita semua ikut menciptakan pasarnya. Selama kita masih memilih yang lebih murah tanpa bertanya dari mana asalnya, selama itu pula pintu tetap terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan kebutuhan dan kelemahan kita. Rokok ilegal tidak datang sendirian; ia diantar oleh kelalaian kita, oleh keengganan kita untuk peduli, oleh anggapan bahwa “itu bukan urusan saya.”
Penindakan yang dilakukan Bea Cukai Sumbawa patut diapresiasi. Polisi, Kejaksaan, TNI, dan pemerintah daerah yang bersinergi adalah tanda harapan. Namun satu hal yang perlu kita sadari: tidak ada aparat yang cukup banyak untuk menjaga setiap saku di setiap saku rumah kita. Garis pertahanan terkuat tidak ada di pos pemeriksaan jalan raya — ia ada di kesadaran setiap tangan yang akan mengeluarkan uang di warung.
Kita tidak bisa hanya menunggu aparat menangkap mereka yang melanggar. Kita juga harus berani menjadi mata dan telinga bagi satu sama lain. Karena rokok ilegal itu bukan musuh negara saja — ia adalah musuh rumah kita sendiri. Dan rumah yang paling kuat pertahanannya, adalah rumah yang penghuninya saling menjaga satu sama lain.(AM/***)
Catatan
¹ Sumber: anugerah-media.com, 21 Oktober 2026 — Bea Cukai Sumbawa Bongkar Modus Baru Rokok Ilegal, 236 Ribu Batang Diangkut Pakai Truk Berpendingin

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles