
Oleh dr. H Minanurrahman
Sampah, limbah, dan barang bekas adalah barang barang yang tidak layak untuk dipakai lagi. Karena itu orang membuang barang barang tersebut. Bila sampah, limbah dan barang bekas itu tidak dikelola dengan baik akan berakibat mengotori dan menganggu lingkungan.
  Sesungguhnya sampah, limbah dan barang bekas itu masih bisa dimanfaatkan atau didaur ulang. Kini saatnya kita mulai berfikir dan bertindak untuk mengatasi masalah sampah dengan pendekatan NOL SAMPAH atau Zero Waste.
  Pada dasarnya sampah itu terbagi menjadi 2 golongan yaitu *sampah organik* yang berasal dari produk alam, dan *sampah non organik* yang berasal dari produk karya manusia. Sampah organik lebih mudah pengelolaannya karena alam membantu menguraikan. Sedangkan sampah non organik tidak mudah terurai, karena itu butuh didaur ulang. Karena itu kedua golongan sampah itu harus dipisah dalam pengelolaannya.
  Semua orang bertanggungjawab *mengurangi produksi sampah* dan *mengelola sampah agar bisa dimanfaatkan*. Sedangkan tanggung jawab pemerintah adalah menghilangkan *tumpukan sampah* yang sudah menggunung dan *mendaur ulang sampah.* Program mengatasi masalah sampah ini diberi istilah ZERO WASTE INISIATIF.
  Zero Waste inisiatif adalah usaha untuk mengurangi produksi sampah serendah-rendahnya dengan melibatkan partisipasi seluruh masyarakat. Ada *5 prinsip dalam Zero Waste inisiatif* yaitu;
1. Refuse, menolak menggunakan kemasan dan barang yang hanya digunakan sekali pakai.
2. Reduce, mengurangi penggunaan barang yang mudah menjadi sampah.
3. Reuse, menggunakan kembali barang yang masih bisa dipakai untuk keperluan lain.
4. Recycle, mendaur ulang menjadi bahan baku.
5. Rot, membusukkan sampah organik menjadi pupuk kompos.
  Agar semua masyarakat mau berpartisipasi dalam pengelolaan sampah maka diperlukan *sosialisasi terus menerus* tentang konsep Zero Waste melalui berbagai media. Semua lapisan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa harus memahami, bertanggung jawab dan terlibat dalam pengelolaan sampah.
  Konotasi *membuang sampah* perlu diubah menjadi *mengelola sampah, limbah, dan barang bekas.* Diharapkan setiap orang bisa membedakan sampah organik dan sampah non organik. Kemudian memisahkan antara sampah organik dari sampah non organik ketika membuangnya. Masyarakat juga perlu mengetahui berbagai cara pengelolaan setiap jenis sampah.
  Sampah organik yaitu sampah yang berasal dari makhluk hidup seperti tumbuhan, daun, ranting, sayuran, buah-buahan, bangkai hewan, dan sisa makanan, dimana semua itu bisa membusuk dan terurai secara alami.
  Sedangkan sampah non organik adalah sampah dari benda mati yang terbuat dari plastik, logam, kaca, dan semua barang buatan pabrik. Sampah ini tidak akan membusuk dan tidak bisa terurai sehingga mencemari lingkungan.
  Ketika semua orang mampu membedakan sampah organik dan sampah non organik, maka memisahkan antara kedua golongan sampah itu menjadi mudah. Memisahkan sampah non organik dari sampah organik akan memudahkan untuk mendaur ulang. Kemudian dari sampah non organik yang berasal berbagai macam bahan itu juga dipilah lagi menjadi sampah plastik, sampah logam, sampah kaca, dan sampah elektronik.
  Jika semua orang membuang sampah secara terpisah antara sampah non organik dan organik, maka akan memudahkan pemulung mengumpulkan sampah non organik. Bagi pemulung, sampah non organik yang bersih (tidak terkotori sampah organik) akan dihargai lebih mahal.
  Para pemulung biasanya akan mengambil sampah non organik sebelum petugas kebersihan kota mengangkut sampah ke tempat pembuangan sampah akhir. Bila Anda selalu memisahkan sampah non organik dari sampah organik berarti Anda sangat berjasa membantu para pemulung.
  Perlu Anda ketahui bahwa sampah yang bercampur antara non organik dengan organik akan dibuang di tempat pembuangan sampah yang makin menggunung. Sampah campuran itu menjadi sulit terurai dan mencemari lingkungan. Apalagi bila sampah campuran itu dibuang di selokan, got, atau saluran akan menjadi penyebab banjir karena menyumbat saluran air.
  Terlebih bila sampah itu dibuang ke sungai maka akan merusak habitat ekosistem sungai, dan akhirnya mengalir ke laut yang berakibat pencemaran sampah di laut yang membahayakan banyak hewan laut.
  Dengan langkah sederhana yaitu memisahkan sampah non organik dari sampah organik akan menyelematkan lingkungan dari pencemaran dan memudahkan petugas kebersihan dalam mengelola sampah, serta memberi tambahan penghasilan bagi para pemulung.
  Sedangkan untuk sampah organik, Anda bisa gunakan untuk menyuburkan tanaman di halaman rumah. Sampah organik itu cukup di masukkan ke dalam lubang biopori. Lubang Biopori ini berfungsi ganda yaitu sebagai penyerap air hujan, dan mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanaman. Dengan demikian yang Anda buang adalah sampah non organik bersih (yang tidak tercampur sampah organik) sehingga bisa dipungut dan dimanfaatkan oleh para pemulung. Akhirnya produksi sampah pun menurun.(AM)



