
Oleh dr. H Minanur Rahman
_”Ikan sapu-sapu mengubah wajah Sungai Citarum di Jawa Barat yang dulunya tercemar berat dengan indeks kualitas air hanya kelas 4 (buruk buat kehidupan akuatik) menurut data KLHK 2023, menjadi lebih baik. Di sisi lain, ikan ini merusak biodiversitas sungai.”_
Sejak 2010 atau setelah ikan sapu-sapu menyebar liar, keberadaan ‘Alga’ turun drastis sampe 60% di beberapa lokasi berdasarkan studi lokal yang dikutip dari unair.ac.id. Saat ini, air sungai menjadi ‘lebih jernih’ dan ‘oksigen terlarut’ naik 20-30%, karena lumut berlebih yang memblokir sinar matahari hilang.
. *Argumennya logis*. Di ekosistem sungai yang overload polutan organik dari limbah rumah tangga dan industri, ‘ikan sapu-sapu berfungsi kayak filter alami’. Analisis data sederhana dari jurnal ekologi Indonesia menunjukan di Sungai Code Malang, populasi ikan endemik seperti mujair naik 15% gara-gara kompetisi alga berkurang.
_Biaya pembersihan manual bisa ditekan Rp 500 juta per km sungai per tahun, sementara sapu-sapu berkerja gratis._
Namun demikian, perubahan ekosistem ini menjadi pedang bermata dua. Sapu-sapu invasif bereproduksi cepat—satu betina bisa menghasilkan 200 telur per musim dan tahan dengan kondisi air keruh yang ber-pH 6-8.
Di Sungai Ciliwung, survei 2024 dari Balai Litbang LHK mencatat dominasi ikan sapu-sapu mencapai 70% biomassa ikan dasar, nyaris mengusir spesies lokal, seperti ikan lele batu, atau somborot.
Kehilangan biodiversitas ini membuat rantai makanan terganggu: burung air dan katak yang memangsa ikan kecil endemik kelaparan sehingga populasi mereka turun 25% di beberapa segmen sungai.
Dampak paling krusial dari keberadaan ikan sapu-sapu adalah perilaku menggali (burrowing behavior). Ikan ini membuat lubang di tepi sungai dan danau sebagai sarang yang berpotensi menyebabkan erosi tebing serta meningkatkan sedimentasi.
KLHK melaporkan lebih dari 150 sungai terdampak invasif per 2025. Namun, kualitas air rata-rata naik 15%. Di sisi lain, nelayan kecil rugi karena jebakan udang kosong, sementara ekspor ikan sapu-sapu malah menjadi industri Rp100 miliar/tahun.
Dilansir RRI, ikan sapu-sapu yang dilepaskan ke sungai justru menjadi ancaman besar bagi ekosistem perairan. Ikan asli sungai Amazon Amerika Selatan ini merupakan spesies invasif yang mampu merusak keseimbangan alam dan mengancam keberlangsungan ikan lokal Indonesia.
Ikan ini hampir tidak memiliki predator alami di alam liar karena perlindungan kulitnya yang sangat keras dan berduri. Hal tersebut membuat populasinya meledak drastis, apalagi satu ekor induk mampu menghasilkan ratusan butir telur dalam sekali masa bertelur.
Dampak nyata terlihat pada kerusakan ekosistem lokal karena ikan ini gemar memangsa telur ikan endemik, seperti wader dan gabus. Selain memangsa telur, kebiasaan mereka membuat lubang di pinggiran sungai untuk bersarang dapat memicu erosi serta longsor di bantaran sungai.
Kehadiran ikan sapu-sapu yang mendominasi sebuah perairan menjadi pertanda bahwa ekologi di wilayah tersebut telah mengalami pencemaran akut. Mereka memiliki daya tahan luar biasa untuk tetap hidup meski kadar oksigen di perairan sangat rendah dengan tingkat keasaman yang tinggi.
Risiko kesehatan yang paling krusial bagi manusia (jika mengonsumsi ikan ini) adalah sifat ikan ini sebagai bioakumulator logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Ikan sapu-sapu mampu menyerap polutan berbahaya dari lumpur sungai yang tercemar dan menyimpannya di dalam jaringan tubuh mereka.
Upaya Pemprov Jakarta membasmi ikan sapu-sapu memang diperlukan untuk mengurangi jumlah populasinya. Akan tetapi ada banyak hal lain yang harus dilakukan untuk menjaga sungai bersih bebas dari kotoran organik maupun limbah berbahaya lainnya. Sungai harus direstorasi agar menjadi habitat yang sehat bagi banyak kehidupan dalam ekosistem sungai.
Menjaga kebersihan sungai agar bebas dari sampah, limbah rumah tangga, maupun limbah berbahaya dari pabrik. Sungai harus kembali alami terpisah dari sistem drainase. Pinggir/badan sungai harus dikembalikan alami agar bisa ditumbuhi tumbuhan dan pepohonan.
Ekosistem sungai dihidupkan kembali dengan memasukkan ikan endemis seperti mujair, lele, gabus, dan ikan lainnya yang memakan lumut, alga, dan relatif tahan di air yang kurang bersih. Penangkapan ikan di sungai harus dibatasi sehingga populasi sungai terjaga.(AM)



