Senin, 13 Juli 2026
spot_img

Arah Kebijakan Pendidikan di Bawah Kepemimpinan Kemendikdasmen

Oleh dr. H Minanur Rahman
Tidak lagi menjadi satu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di kabinet Merah Putih era Presiden Prabowo Subianto terpecah menjadi tiga. Ketiganya yakni Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek), serta Kementerian Kebudayaan.
   Kemendikdasmen, dipimpin oleh Menteri Abdul Mu’ti didampingi oleh Wakil Menteri (Wamen) Fajar Riza Ul Haq dan Atip Latipulhayat. Ketiganya akan fokus membenahi berbagai program yang telah hadir pada masa eks Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim di ranah pendidikan prasekolah (PAUD/TK), SD, SMP, dan SMK.
  Lalu arah kebijakan apa saja yang akan diambil Menteri Mu’ti dan kedua wakilnya? Berikut rangkumannya.
1. Kurikulum Merdeka, Ujian Nasional, dan Zonasi
Usai resmi dilantik, Mendikdasmen Prof Dr Abdul Mu’ti MEd menerima tampuk kekuasaan secara langsung dari eks Menteri Nadiem. Kepada wartawan ia mengaku tidak akan terburu-buru dalam mengambil kebijakan dan ingin sesuai dengan keinginan masyarakat. Termasuk terkait berbagai sistem yang masih menjadi polemik hingga saat ini. Seperti Kurikulum Merdeka, Ujian Nasional (UN), dan Zonasi Sekolah itu akan dikaji ulang.
  Dengan demikian selama satu bulan ke depan, ia akan membuka telinga mendengar masukan dari berbagai pihak. Baik dari kalangan pemerintah pusat dan daerah, pakar, hingga masyarakat yang memerhatikan pendidikan.
2. Quick Win Prabowo-Gibran Jadi Acuan Program
  Berkaitan dengan program prioritas apa yang akan dikerjakan Kemendikdasmen dalam waktu dekat, Abdul Mu’ti menjelaskan akan mengacu pada ‘quick win’ di program pemerintahan Prabowo-Gibran. Ada dua program quick win Prabowo-Gibran terkait Kemendikdasmen yang anggaran dananya telah disetujui DPR, yaitu:
  1.*Renovasi Sekolah* yang mencakup ruang kelas, mebeler, dan MCK (mandi, cuci, kakus) sebanyak 22 ribu sekolah dengan nilai alokasi anggaran Rp 20 triliun.
  2.*Membangun Sekolah Unggulan Terintegrasi* dengan anggaran Rp 4 triliun.
Seusai rapat perdana kabinet Merah Putih pada 23 Oktober 2024 lalu, mendapat pesan dari Presiden Prabowo agar kepentingan pendidikan harus diprioritaskan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
  Terkait program Renovasi Sekolah, Kemendikdasmen akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan pemerintah daerah seluruh Indonesia dalam program ini. Dalam pertemuan mendatang akan dicatat sarana dan prasarana pendidikan yang kini sudah rusak atau belum memenuhi persyaratan.
  Sedangkan terkait program Sekolah Unggulan, nantinya akan dibangun untuk menunjang pengembangan potensi anak-anak Indonesia. Tetapi bentuknya memang masih akan dikaji lebih lanjut.
  Karena bentuk sekolah unggulan akan beragam. Ada yang khusus unggul secara akademik dan juga sekolah unggulan khusus secara bakat minat di bidang olahraga atau seni.
3. Tentang Guru dan Peningkatan Kesejahteraannya
Bukan hanya terkait peserta didik, pendidik atau guru menjadi hal yang ikut dikaji serius Kemendikdasmen. Abdul Mu’ti mengakui isu terkait kesejahteraan guru masih menjadi persoalan yang mengintai dunia pendidikan.
  Meskipun belum bisa menyebutkan berapa besaran kenaikan gaji guru, dia menyebutkan anggaran telah disiapkan. Sedangkan regulasinya akan disampaikan secara bertahap.
  Selanjutnya, Mu’ti mengaku akan menambah jumlah guru hingga tingkatkan kualitas pengajaran mereka. Setidaknya ada tiga bidang pelajaran yang akan menjadi utama yakni guru Matematika, guru IPA, dan guru Bimbingan Konseling.
4. Wajib Belajar 13 Tahun – Peningkatan Pembelajaran Matematika
Mengaca pada Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2025-2045 yang diluncurkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kemendikdasmen ungkap ikut berkomitmen dalam wajib belajar 13 tahun. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan anak usia dini (PAUD).
  Meski ada pernyataan 13 tahun, ia menekankan bukan siswa akan sekolah hingga kelas 13. Tetapi perhatian akan ditujukan pada pendidikan pra sekolah.
  Ia sempat menyinggung kemungkinan mengenalkan Matematika untuk anak-anak di tingkat TK. Hal ini semata-mata lantaran Prabowo menaruh perhatian pada perkembangan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
  Tanpa mengecilkan bidang-bidang lainnya, pembenahan akan dilakukan dari akar pondasi STEM yakni matematika. Tetapi ia belum bisa memastikan apakah akan diajarkan di tingkat TK, pengkajian akan mulai dilakukan di tingkat SD.
5. Pemberantasan Bullying
Kemendikdasmen menyadari bila angka bullying atau kekerasan di sekolah cukup tinggi. Sehingga mereka menawarkan 2 solusi untuk menekan lajunya kasus bullying yakni dengan menambah guru bimbingan konseling (BK), dan memberikan pelatihan.
  Pelatihan tidak hanya terbatas pada guru BK, melainkan guru pada bidang studi lain agar mereka memiliki kemampuan konseling. Pelatihan ini akan berkaitan dengan value education atau pendidikan nilai.
6. SMK di Era Kemendikdasmen
Tidak akan lagi menjadi satu, SMK yang semula ada di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi akan berpindah di bawah kewenangan Kemendikdasmen. Nantinya SMK akan bertransformasi dalam mengembangkan teknologi tinggi berbasis kekayaan dan potensi alam. Sehingga, lulusan SMK diharapkan memiliki kemampuan yang bisa mengembangkan potensi-potensi lokal bangsa Indoensia.
  Karena berjalan dengan pengembangan yang baru, Mu’ti menyebutkan format SMK di pemerintahannya akan diperbaharui. Termasuk yang berkaitan dengan visi dunia usaha.
  Perusahaan yang bisa berkolaborasi dengan SMK ke depannya tidak harus perusahaan besar Indonesia. Tetapi, SMK akan membuka kerja sama dengan perusahaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
  Begitulah arah kebijakan pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles