
Oleh dr. H Minanur Rahman
Setiap orang berisiko mengalami kerugian baik harta, kesehatan, bahkan nyawa. Karena itu semua orang berusaha mengumpulkan banyak harta agar kebutuhan tak terduga bisa terpenuhi. Demikian pula dengan kesehatan perlu cadangan dana untuk kondisi sakit yang mendadak. Begitu pula dengan resiko kematian atau penuaan yang tidak produktif, kita butuh cadangan dana untuk keluarga yang ditinggalkan atau biaya hidup di masa tua. Banyak orang tidak menyadari manfaat sedekah sebagai jaminan dari kerugian harta, gangguan kesehatan, resiko penuaan, dan kematian.
 Sedekah adalah tindakan menyisihkan sebagian harta yang diberikan ke orang lain sebagai rasa syukur atas rezeki dan kepedulian pada orang lain yang membutuhkan. Rasa syukur adalah ekspresi bahagia atas kelimpahan rezeki dan hilangnya rasa khawatir akan kekurangan. Sedangkan kepedulian adalah rasa kebersamaan dan saling membutuhkan antar sesama manusia.
  Selain dari memberikan sebagian harta, sedekah juga bisa berupa perbuatan baik, menolong, membantu, memberi nasehat, berbagi ilmu, bahkan memberikan senyum dan salam pun termasuk sedekah. Semua perbuatan baik tersebut akan direspon dengan ucapan terima kasih dan rasa tertolong dari si penerima. Orang merasa ditolong tentu berterima kasih dan mendoakan orang yang menolongnya agar diberikan kelimpahan rezeki, sehat, panjang umur, dan kemudahan dalam segala urusan. Suatu hari pun orang yang merasa ditolong itu akan membalas dengan kebaikan yang dia bisa lakukan.
  Sedekah itu tidak akan membuat harta kita berkurang, melainkan justru bertambah. Contohnya; Seorang pedagang makanan melihat ada gelandangan yang kelaparan, kemudian dia memberi sebungkus nasi. Tentu si gelandangan merasa senang dan berterima kasih serta mendoakan yang memberinya makanan. Selain itu dia akan berusaha menolong sang pedagang dengan menjadi keamanan warungnya.
  Sedekah bisa juga berupa berbelanja ke pedagang kecil (meskipun kita tidak menginginkan). Bisa saja kita belanja ke toko swalayan atau supermarket, tapi bila kita belanja ke pedagang kecil atau pasar tradisional maka uang yang kita belanjakan akan berputar di lingkup lokal. Sedangkan bila ke supermarket atau swalayan maka uang berputar ke pemodal besar.
  Bila Anda seorang pegawai kantoran bisa saja Anda bersedekah ke klien atau bawahan Anda dengan menyuguhkan minuman atau makanan kecil. Suguhan sederhana ini berdampak pada hubungan yang lebih baik. Maka Anda akan disukai klien dan bawahan Anda.
  Bagaimana dengan sedekah untuk kesehatan? Saat ini semua orang telah terjamin pelayanan kesehatan dengan BPJS. Artinya setiap orang tidak perlu khawatir dengan biaya berobat ketika sakit. Tentu Anda memilih untuk tidak sakit meskipun ada BPJS. Apakah Anda merasa rugi dengan membayar iuran BPJS bila Anda tidak pernah sakit?
  Bila Anda lebih memilih ingin tetap sehat dan tidak sakit, maka niatkan iuran BPJS itu sebagai sedekah untuk kebutuhan berobat orang lain dan berdo’alah agar sedekah iuran BPJS Anda dibalas Allah SWT dengan sehat dan afiat.
  Ketika Anda sakit ringan maka berobatlah ke dokter tanpa menggunakan BPJS. Berobatlah ke dokter muslim yang soleh, karena selain mengobati dokter itu akan berdoa untuk kesembuhan Anda. Percayalah bahwa uang yang Anda keluarkan untuk berobat ke dokter menjadi keberkahan kesembuhan.
  Bila Anda sedang sakit berat yang butuh tindakan dan perawatan rumah sakit dengan biaya besar maka disini lah manfaat BPJS untuk biaya berobat. Pada kesempatan ini sebaiknya Anda perbesar nilai sedekah Anda ke fakir miskin dan anak-anak yatim. Sedekah yang Anda keluarkan berguna untuk meringankan beban sakit, meningkatkan kesabaran, dan bertawakal serta mohon ampunan Allah atas dosa-dosa Anda.
  Dengan sedekah yang sudah menjadi kebiasaan, InsyaAllah hidup Anda selalu dilimpahi rezeki yang berkah, segala urusan terasa mudah, di kelilingi orang-orang yang penuh kasih sayang, dikaruniai kesehatan serta keafiatan, dan diberi kesempatan hidup lebih lama. Umur hanyalah menjadi pertambahan tahun, sedangkan kematian tidak pernah menjadi momok yang menakutkan. Dari waktu ke waktu diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan ibadah yang makin khusyuk dan nikmat, sehingga tidak ada kenikmatan yang melebihi dari kedekatan dengan Sang Pencipta, Allah, Tuhan semesta alam.)AM)



