
Oleh dr. H Minanur Rahman
Invasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) di sungai-sungai Jakarta kian meresahkan karena statusnya sebagai spesies invasif yang merusak ekosistem. Pemprov DKI Jakarta melakukan penangkapan besar-besaran, dengan 6,9 ton ikan disita dari berbagai wilayah, terutama Jakarta Selatan. Ikan ini cepat berkembang biak, memakan telur ikan lokal, dan tahan polusi.
Populasi ikan sapu-sapu meledak di berbagai aliran sungai, seperti Sungai Ciliwung, Kali Anak TSI, dan saluran penghubung lainnya. Hasil tangkapan terbesar per April 2026 berada di Jakarta Selatan (63.600 ekor, 5,3 ton) dan Jakarta Timur (4.128 ekor, 825,5 kg). Ikan ini dikategorikan hama karena merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai, dan mendominasi perairan, menggeser ikan asli sungai Jakarta.
Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) adalah ikan invasif asal Amerika Selatan, khususnya Brasil, yang hidup di perairan air tawar hingga payau seperti sungai, danau, dan rawa. Ikan ini sangat adaptif, mampu hidup di air tercemar rendah oksigen (bahkan hingga 30 jam di luar air), dan sering membuat lubang di dasar sungai berlumpur.
Habitat Asli ikan sapu-sapu adalah sungai, danau, dan rawa di Amerika Selatan yang memiliki aliran sedang hingga deras, dengan banyak bebatuan, kayu apung, dan tanaman air.
Habitat Invasi (Indonesia): Di Indonesia, ikan ini menjadi spesies invasif yang mendominasi sungai-sungai berarus lambat, saluran irigasi, dan perairan yang sudah terdegradasi/tercemar berat. Ikan sapu-sapu mampu bertahan di air dengan kandungan oksigen rendah dan kualitas air yang buruk. Mereka menyukai substrat dasar yang berlumpur atau lempung untuk membuat lubang sarang.
Adaptasi Khusus: Ikan ini memiliki kemampuan bernapas melalui kulit dan perut, yang memungkinkan mereka bertahan hidup di lingkungan ekstrem dan bersembunyi di dasar sungai.
Di Indonesia, ikan sapu-sapu sering ditemukan dalam jumlah besar di sungai-sungai tercemar seperti Sungai Ciliwung, menunjukkan tingkat adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang tercemar.
Mengungkap Manfaat Ikan Sapu-Sapu: Dari Pembersih Akuarium Hingga Sumber Nutrisi
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys) dikenal luas sebagai ‘pembersih alami akuarium’ yang efektif. Kemampuannya dalam mengonsumsi alga, lumut, dan sisa pakan menjadikan ikan ini pilihan populer di kalangan penghobi ikan hias. Namun, di balik perannya sebagai pemelihara kebersihan akuarium, ikan sapu-sapu juga menyimpan potensi nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Penting untuk diperhatikan bahwa konsumsi ikan ini harus berasal dari perairan bersih untuk menghindari risiko kontaminasi logam berat.
Manfaat Ikan Sapu-sapu
*Membersihkan Alga dan Lumut*: Ikan sapu-sapu sangat efektif dalam menghilangkan pertumbuhan alga dan lumut yang menempel pada kaca akuarium, dekorasi, dan substrat. Hal ini membantu menjaga kebersihan visual akuarium.
*Mengurai Sisa Pakan*: Sisa-sisa pakan ikan lain yang tidak termakan seringkali mengendap di dasar akuarium dan membusuk. Ikan sapu-sapu membantu mengonsumsi sisa pakan ini, mengurangi penumpukan limbah organik.
*Menjaga Kualitas Air*: Dengan mengurangi akumulasi alga dan sisa pakan, ikan sapu-sapu turut membantu menjaga kualitas air akuarium. Air yang bersih akan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi ikan lain.
*Meningkatkan Estetika*: Akuarium yang bersih dari alga dan kotoran tentu akan terlihat lebih indah dan jernih, meningkatkan pengalaman visual bagi pemiliknya.
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) memiliki fungsi ekologis ganda, yaitu sebagai pembersih alga/lumut di perairan dangkal, namun di perairan terbuka ia bertindak sebagai spesies invasif. Mereka membantu mengurangi penumpukan alga, tetapi kemampuannya beradaptasi tinggi mengancam ikan lokal, merusak struktur dasar sungai, dan memakan telur ikan lain.
Indikator Lingkungan: Ikan ini sangat toleran terhadap polutan, sehingga kehadirannya dalam jumlah besar di perairan umum seringkali menunjukkan kualitas air yang menurun atau tercemar.
Meskipun secara fisik berfungsi sebagai pembersih, dampak negatifnya terhadap ekosistem alami jauh lebih besar daripada manfaatnya, sehingga di perairan terbuka, ikan ini dianggap sebagai hama.
*Pemberantasan ikan sapu-sapu* (Pterygoplichthys sp.) sebagai spesies invasif dilakukan secara masif melalui penangkapan langsung (jaring/perangkap), pengeringan saluran air, dan pemusnahan. Langkah ini penting karena populasi mereka merusak struktur sungai dan mengancam ikan lokal. Pengolahan menjadi pakan atau produk bernilai ekonomi juga dianjurkan.
Berikut adalah beberapa cara efektif untuk memberantas ikan sapu-sapu:
Penangkapan Massal: Menggunakan jaring, jala, atau perangkap khusus, terutama di sungai atau danau tempat mereka berkembang biak.
Pengeringan Saluran/Kali: Pada sistem saluran air, pengeringan (pengurasan) saat musim kemarau menjadi cara paling efektif untuk memanen atau memusnahkan populasi ikan sapu-sapu.
Pemanfaatan Ekonomis: Ikan sapu-sapu hasil tangkapan dapat diolah menjadi tepung ikan untuk bahan baku pakan alternatif. Ini memberikan solusi lingkungan sekaligus manfaat ekonomi.
Pemusnahan Langsung: Ikan yang tertangkap tidak dilepaskan kembali, melainkan dikubur jauh dari pemukiman untuk mencegah bau busuk atau penggunaan yang salah.
Pengedukasian Warga: Memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya mengonsumsi ikan sapu-sapu dari perairan yang tercemar limbah, karena berpotensi membawa logam berat.
Pemberantasan yang masif, terencana, dan didukung oleh partisipasi warga sangat krusial untuk memulihkan keseimbangan ekosistem perairan.
Indikasi Kualitas Sungai Buruk
Melimpahnya populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp.) di sungai, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta (Sungai Ciliwung), merupakan indikator kuat bahwa kualitas air sungai tersebut sangat buruk.(AM)



