
Oleh dr. H Minanur Rahman
Cerita dari temen di wag sebelah…. Dishare oleh dr. Sp. KJ
“Teman-teman, saya mau cerita sedikit.”
Usia saya sudah jalan 71 tahun. Pensiunan. Di rumah cuma berdua sama istri. Alhamdulillah saat ini diberi Allah sehat dan bisa membuat ceritera ini.
Dua tahun terakhir ini saya berobat rutin ke RS… Saking rutinnya, RS sudah dianggap seperti mall gratis… yaitu mall Geriatri dan Mall PMI…. pakai BPJS. Semua berawal dari faskes 1 di kimia Farma.. selanjutnya mulai lah “wisata medis” dirujuk ke spesialis jantung, lalu penyakit dalam, saraf, ginjal, urologi, bahkan sampai ahli gizi. Semua inisiatif dokter, dokter yang sibuk mikirin, bukan saya yang minta. Ditambah cek lab, USG, CT Scan, sampai MRI…. semua gratis, dan semua ditanggung BPJS. Dan hasilnya? Alhamdulillah sehat. Yang ada hanya proses penuaan yang wajar.
Sistemnya bagus dan bertanggung jawab :
Dokter-dokter memeriksa bukan karena kita bayar mahal, tapi karena memang itu tugasnya. Teliti, berjenjang, sesuai keluhan. 24 bulan saya jalani, tidak ada yang asal-asalan.
Catatan :
Dalam jurnal kesehatan : Sistem rujukan berjenjang BPJS itu sengaja dibuat. Tujuannya agar diagnosa tepat, tidak langsung obat mahal. Menurut WHO -gatekeeping system- akan membuat biaya kesehatan negara lebih efisien dan pasien lebih aman.
Jadi bukan dipersulit, tapi dijaga.
Tapi yang bikin saya betah ke RS bukan cuma itu. Ternyata panggung utamanya adalah berjam jam di ruang tunggu… Ibarat jalan jalan, hiburan ..! karena disana saya ketemu teman organisasi, teman SMP, teman SMA, teman baru dan banyak ceritera yang bikin merenung…Ternyata RS itu *sekolah kehidupan* :
– Ada anak kecil yang sudah harus cuci darah rutin. Tapi masih bisa ketawa.. ketawanya pun keras ngalahin kita yang sehat.
– Ada remaja cantik, 19 tahun, kalau buang air kecil pakai selang kateter. (sudah 10 tahun). Tapi dia tetap semangat kerja jadi pramuniaga buat bantu orang tuanya… Ini mental baja.!
– Ada ibu-ibu berdandan heboh, hepi, sambil dorong suaminya yang di kursi roda.
– Ada anak-anak muda yang telaten ngantar orang tuanya berobat. Kasih sayangnya kelihatan banget… bagaikan ke Raja.
– Ada ibu-ibu yang luar biasa gesit ngurus administrasi JKN Mobile yang suaminya nggak ngerti. Di depan dokter, ibunya yang cerita keluhan suami, ibunya juga yang paham… Suaminya bengong mendengarkan penjelasan dokter.
– dan lain lain ceritera.
Dan mereka semua ramah. Suka cerita. Sabar. Duduk di kursi roda pun nggak ngeluh…. buat aki aki yang sehat jadi malu diri kalo mengeluh.
Dan, istriku pun yang mengantar senang ngobrol …. Dan, akupun jadi happy.
Catatan :
Menurut Psikolog, “lingkungan sosial yang suportif itu mempercepat kesembuhan sampai 50%.” Ngobrol sama sesama pasien, ketawa bareng, itu namanya -social support- dan -laughter therapy- …. Gratis, tapi efeknya setara obat.
Menurut penelitian Harvard tahun 2023 : “lansia yang aktif bersosialisasi punya risiko demensia 30% lebih rendah”. Jadi ke RS itu bukan buang waktu, tapi investasi otak.
Saya kagum. Dan saya yakin, obat paling manjur itu adalah sabar. Itu yang saya pelajari dari mereka.
Saya tahu, banyak teman sebaya yang ngeluh soal BPJS. Antre lama, rujukan ribet, kuota habis. Iya, saya paham. Tapi buat kita yang pensiunan, uang pas-pasan, mau ke RS swasta juga berat. Daripada dijadikan beban, kenapa nggak kita ubah cara pandang?
Kalau sabar, RS itu bukan tempat nunggu obat. Tapi tempat belajar tentang kehidupan, tentang syukur, tentang kuat.
Salam sehat dari aki aki yang jalan 71 tahun. Yang ke RS pakai BPJS, pulang bawa cerita dan semangat baru.(AM)



