Senin, 26 Oktober 2026
spot_img

Kejayaan Negara Republik Indonesia Tergantung Pada Umat Muslim

Oleh dr. H Minanur Rahman
Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas muslim (86%) dengan jumlah penduduk muslim (>230 juta) terbanyak di dunia. Penduduk Indonesia saat ini hampir 290 juta. Meskipun demikian Indonesia bukanlah negara Islam melainkan negara Republik yang demokratis berlandaskan hukum kesepakatan.
   Umat muslim Indonesia sangat toleran terhadap umat lainnya. Bahkan dalam satu keluarga bisa ada yang berbeda keyakinan/memeluk agama lain. Tempat peribadatan berbagai agama pun bisa berdampingan dengan damai.
   Penduduk Nusantara sebelum datangnya masa penjajahan kebanyakan menganut agama islam dan sebagian kecil Hindu, Budha, kepercayaan lainnya yang terhimpun dalam kerajaan-kerajaan atau kesultanan-kesultanan kecil.Mereka berdampingan dengan damai dan kadang ada peperangan atau perebutan kekuasaan.
   Setelah masa penjajahan yang berlangsung beratus tahun, para penjajah tidak mampu mengubah keimanan mereka. Meskipun umat muslim harus miskin dan tidak bisa sekolah tetapi mereka tetap bertahan dengan keimanannya.
  Keimanan dan ketaatan melaksanakan ajaran agama membuat umat muslim pasrah pada kehendak dan kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala. Kejahatan dan keserakahan penjajah tidak dilawan dengan peperangan ketika mereka tidak dipaksa oleh para penjajah untuk meninggalkan agama mereka.
   Menjelang berakhirnya Perang Dunia II banyak bangsa bangsa jajahan yang memerdekakan diri termasuk bangsa Indonesia. Umat muslim yang mayoritas tidak memaksakan Negara Republik Indonesia sebagai negara IsIam, dan berkompromi untuk membentuk Negara demokratis yang dipimpin oleh Presiden.
   Satu hal besar yang membuat Negara Republik Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia adalah *Negara berdasarkan pada KETUHANAN YANG MAHA ESA*. Inilah yang membuat rakyat Indonesia memeluk agama IsIam dengan keimanan yang kuat, demikian pula dengan pemeluk agama lainnya.
   Ajaran agama IsIam mengharuskan umat muslim untuk menghormati dan melindungi pemeluk agama lain selama mereka bisa hidup damai bersama umat muslim. Umat muslim memang wajib mengabarkan ajaran IsIam ke seluruh umat manusia. Akan tetapi umat muslim tidak boleh memaksa, membujuk, atau mempengaruhi seseorang untuk memeluk agama IsIam.
   Sementara itu di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim justru dilanda fitnah Islamopobhia. Ada tuduhan terorisme, radikalisme, negara khilafah, sebutan kadrun, intoleransi, dsb. Bahkan banyak tokoh muslim yang dipenjara dengan tuduhan yang tidak jelas. Entah ada apa dia negeri ini?
   Sejak Reformasi telah terjadi pergeseran demokrasi menjadi lebih liberal dan sekuler. Kemudian terjadi perubahan Undang Undang Dasar yang mengubah prinsip-prinsip bernegara dan penyelenggaraan pemerintahan. Partai politik bertambah banyak akan tetapi hanya berbeda lambang dan warna bendera.  Hampir semua partai politik menjadi pragmatis berebut kekuasaan.
   Kondisi sepuluh tahun terakhir menunjukkan keserakahan Oligarki makin nyata. Para wakil rakyat tidak lagi punya nyali dan tidak berdaya menghadapi sodoran *rancangan undang-undang Omnibus* yang berpihak pada kepentingan pemodal (kapitalis). Proyek proyek infrastruktur raksasa dikendalikan oleh negara asing, didanai utang luar negeri, dan bahkan dikerjakan sepenuhnya oleh tenaga kerja asing. Seakan bangsa ini tak punya uang tak punya tenaga ahli, dan  bahkan tak punya kedaulatan.
   Sebentar lagi (tahun depan) Indonesia akan menyelenggarakan Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden. Seluruh rakyat Indonesia berharap ada pergantian rezim dimana rezim baru kelak dipimpin oleh Presiden yang jauh lebih baik. Presiden yang kompeten, kredibel, cerdas, amanah, punya rekam jejak kepemimpinan terbaik, bukan petugas partai atau oligarki, dan mementingkan kepentingan rakyat serta menghadirkan keadilan bagi semua.
   Akan tetapi mereka (rezim lama) tentu akan berusaha keras melanjutkan kekuasaannya dengan berbagai cara. Mereka akan menyiapkan capres (boneka) yang patuh pada kepentingan parpol dan kepentingan oligarki. Mereka punya modal tak terbatas yang bisa membayar buzzer, membayar pengamat, membayar lembaga survei, membayar politikus dan para pejabat dan bahkan menyuap seluruh rakyat untuk memenangkan Capres mereka.
   Satu-satunya cara untuk mengganti rezim adalah *kesatuan suara umat muslim yang tak bisa dibeli!*. Kita sebagai umat muslim (penduduk mayoritas) dalam memilih pemimpin (Presiden, gubernur, bupati, walikota, dan wakil rakyat) harus yang terbaik imannya, terbaik akhlaknya, terbaik rekam jejaknya dam berjuang untuk kepentingan rakyat serta menghadirkan keadilan bagi semua.
   Setiap umat muslim wajib mengingatkan dan mengajak keluarganya, sahabatnya, tetangganya, dan semua kenalannya untuk memilih pemimpin yang terbaik. Tolak semua hasutan, semua bujuk rayu, dan semua sogokan uang atau barang. Tetapkan hati untuk memilih pemimpin terbaik demi masa depan yang lebih baik. Terbebas dari kebencian, fitnah, dan penguasaan orang asing.
  Pemilu tahun 2024 harus berjalan dengan aman, lancar, jujur, adil, dan transparan. Tidak boleh ada lagi kecurangan seperti pemilu terdahulu yang banyak korban nyawa. Ayo kawal Pemiu agar terlaksana dengan benar dan baik. Mari kita buktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat demokratis. Pemilu menghasilkan pemimpin pemimpin terbaik yang siap berjuang menegakkan kedaulatan rakyat, menghadirkan kesejahteraan, mewujudkan keadilan bagi semua.
   Kesuksesan pergantian rezim tahun depan menjadi titik tumpuan untuk bangkit berdikari menuju kejayaan Indonesia. Rakyat Indonesia harus mampu menjadi manusia berkualitas hebat, berprestasi, sejahtera dan sejajar dengan negara maju lainnya. Kemajuan suatu bangsa bukan sekedar kemajuan ekonomi akan tetapi lebih besar dari itu yaitu kemajuan peradaban yang menjaga Bumi agar menjadi lebih layak dihuni.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles