Sabtu, 13 Juni 2026
spot_img

MENABUNG AIR HUJAN

Oleh dr. H Minanur Rahman
Bila lingkungan tempat tinggal Anda sering mengalami kekeringan ketika musim kemarau dan kebanjiran ketika musim hujan maka Anda harus memikirkan untuk menabung air hujan. Menabung air hujan adalah menyimpan air hujan dalam tanah sehingga tidak terbuang ke laut.
  Air hujan bisa disimpan di dalam sumur, ditampung di telaga, danau, bendungan, dan waduk, atau terserap ke dalam tanah. Jangan membuang air hujan ke laut begitu saja. Sadarilah bahwa air hujan itu air tawar yang bersih dan menyehatkan.
   Air hujan yang kita simpan itu akan menjadi persediaan air bersih sepanjang tahun. Dengan demikian kita tidak lagi kekurangan air bersih hingga akhir musim kemarau. Tentu kita harus bijaksana dalam penggunaan air bersih, jangan boros dan jangan mengotori air.
   Mungkin selama ini sebagian dari kita kurang menyadari bahwa hujan adalah *air yang membawa rahmat dari langit*. Akibatnya mereka kurang bersyukur dan kurang memanfaatkan air hujan yang turun berlimpah. Bahkan mereka membuang air hujan begitu saja, mengalirkan ke selokan menuju ke saluran pembuangan yang berakhir ke laut.
   Sekarang kita sedang menghadapi *perubahan iklim* (climate change) akibat dari *pemanasan global* (global warming) yang ditandai dengan berbagai bencana alam (climate disaster). Perubahan iklim akibat pemanasan global ini menyebabkan penguapan air laut meningkat. Selanjutnya terjadi curah hujan yang meningkat di seluruh dunia terutama di daerah tropis hingga belahan kutub utara dan selatan.
   Indonesia sebagai negara tropis sesungguhnya sangat diuntungkan dengan curah hujan yang meningkat. Sayangnya bangsa ini kurang kesiapan untuk menerima limpahan air hujan. Akibatnya berlimpahnya air hujan justru menyebabkan bencana banjir dan longsor.
  Sudah saatnya perlu penyadaran seluruh komponen bangsa untuk memandang *berlimpahnya air hujan sebagai berkah*, bukan sebagai ancaman bencana. Air hujan harus ditampung dan dijaga agar tetap bersih, juga disimpan ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah.
   Dalam skala besar air hujan ditampung di telaga, kolam, danau, bendungan, atau waduk. Tempat penampungan air tersebut harus dijaga kebersihannya dari polusi dan sampah. Sesekali perlu dikeruk untuk mengangkat endapan lumpur yang mengurangi daya tampung. Dan diperiksa kualitas airnya agar habitat biologinya tetap terjaga. Dengan demikian air dan makhluk penghuninya bermanfaat untuk kesejahteraan manusia.
   Dalam skala rumah tangga, kita bisa menampung dan menyimpan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Biasanya orang-orang menampung air hujan menggunakan drum atau bak  penampungan lainnya. Bahkan ada yang membuat tandon beton atau tangki besar dalam tanah yang bisa menampung puluhan meter kubik air hujan.
    Selain itu kita bisa menyimpan air hujan dengan aman dalam kapasitas tak terbatas yaitu menyimpan ke dalam tanah dengan membuat SUMUR RESAPAN. Sumur resapan air hujan sesungguhnya tidak berbeda dengan sumur galian biasanya cuma lebih dangkal. Bila sumur gali di rumah Anda sedalam 10 meter maka sumur resapan yang perlu dibuat cukup dengan kedalaman 3 sampai 5 meter dengan diameter 1 meter.
   Sumur resapan ini berfungsi untuk menampung air hujan secara langsung agar terserap ke dalam tanah. Air hujan yang mengalir di selokan diarahkan ke sumur resapan. Dengan demikian air hujan sebanyak apapun akan terserap dan tersimpan dalam tanah.
   Air hujan yang masuk ke sumur resapan akan terus terserap tanah hingga masuk ke lapisan air tanah yang disebut akuifer. Lapisan akuifer inilah yang menghasilkan air sumur. Dengan membuat banyak sumur resapan di lingkungan pemukiman maka air hujan bisa tersimpan sebagai cadangan air bersih dan tidak terbuang percuma.
   Setiap rumah tangga diharapkan bisa membuat minimal satu sumur resapan sehingga setiap tetesan air hujan bisa tersimpan ke dalam tanah. Dengan demikian setiap rumah tangga bisa mendapat air bersih dari sumur dan tidak tergantung pada air PAM. Bahkan di musim kemarau pun sumur akan terus menyediakan air bersih.
   Selain dari sumur resapan, air hujan juga bisa terserap ke dalam tanah melalui lubang BIOPORI. LUBANG BIOPORI adalah lubang berdiameter 10 – 15 cm dengan kedalaman 100 – 150 cm. Lubang ini diisi dengan paralon berlobang / berpori. Paralon berguna menahan tanah dan pori pori untuk aliran air.
   Setiap satu meter persegi halaman rumah perlu satu lubang BIOPORI. Dengan adanya lubang lubang BIOPORI di halaman rumah maka setiap kali hujan tidak akan terjadi genangan.
   Lubang BIOPORI juga bisa sebagai tempat sampah organik agar menjadi pupuk atau kompos. Kita tak perlu repot membuat sampah organik. Cukup masukkan sampah organik ke lubang BIOPORI.
   Sampah organik adalah sisa makanan yang berasal dari hewan maupun tumbuhan, termasuk daun dan kotoran hewan. Sampah organik bila dimasukkan ke lubang BIOPORI akan menjadi makanan hewan dalam tanah dan diuraikan menjadi pupuk atau kompos.
    Sekarang sudah memasuki bulan September dimana hujan sudah mulai turun. Jangan menunggu hujan deras menyebabkan banjir. Ayo kita segera menyiapkan diri menyambut curahan hujan sebagai berkah dari langit. Segera buat SUMUR RESAPAN dan Lubang BIOPORI. Dan berdoalah semoga ikhtiar Anda menjauhkan kita dari bencana banjir maupun kekeringan.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles