Selasa, 28 April 2026
spot_img

Mengatasi Banjir dengan Restorasi Sungai dan Memanen Air Hujan

Oleh dr. H Minanurrahman
BANJIR terjadi akibat curahan air hujan tidak terserap ke dalam tanah kemudian menggenang karena tidak tertampung oleh drainase. Penyebab banjir utamanya meliputi faktor alam seperti curah hujan tinggi, siklon tropis, dan kondisi topografi, serta faktor manusia seperti pembuangan sampah sembarangan, alih fungsi lahan, dan kerusakan hutan. Minimnya daerah resapan air dan penurunan muka tanah juga memperparah risiko banjir, terutama di wilayah perkotaan.
  Tiga prinsip mengatasi banjir adalah 1) mempermudah air hujan terserap ke dalam tanah, 2) menampung air hujan dalam telaga, danau, waduk, embung, atau dam, dan 3) memperbaiki sungai kembali alami yaitu restorasi sungai.
  Gerakan Restorasi Sungai mengedepankan tujuan ingin mewujudkan ekosistem sungai yang bersih, sehat, produktif, lestari, aman, tidak tercemar, mengalir lancar, menjadi habitat hewan endemis dan bermanfaat bagi manusia.
    Untuk itu diperlukan *perubahan budaya dan pola pikir* masyarakat dan pemerintah tentang konservasi air hujan, sungai, hutan dan reservoir air. Selama ini air hujan (dianggap tidak berguna) terbuang percuma dialirkan ke drainase terus menuju ke lautan. Padahal air hujan adalah sumber air bersih dan sehat yang seharusnya tersimpan sebagai air permukaan tanah dan air tanah.
     Demikian pula sungai yang selama ini dianggap cuma air mengalir, tempat menghanyutkan sampah, tempat membuang limbah cair dan bagian dari drainase yang mengalirkan air hujan ke laut. Padahal sungai adalah habitat dari banyak kehidupan ekologis yang penting bagi kehidupan manusia.
   Saat ini sudah ada satu langkah awal perubahan, tidak lagi melihat sungai sebagai entitas untuk dieksploitasi tapi penting dikonservasi. Konservasi sungai dikaitkan dengan makin tinginya bencana ekologi yang terjadi. Kementerian Pekerjaan Umum dan KLHK mulai menyadari Restorasi Sungai harus didorong lewat kerjasama dengan masyarakat hingga di tingkat Rukun Tetangga agar sungai bisa dikonservasi secara berkelanjutan.
  Masalahnya justru pada *pengelolaan air dan DAS (daerah aliran sungai) masih terpisah* antara KLHK, Kementan, dan Kementerian PUPR. Dimana program tak dibangun terintegrasi antar instasi tersebut.
  Penting untuk melibatkan masyarakat. Apabila masyarakat tak diajak dan tidak diberikan kewenangan membangun konservasi DAS dan sungai maka persoalan pun tak akan selesai. Masyarakat dan industri akan terus membuang sampah dan limbah, serta penebangan hutan masih terjadi secara masif. Pemerintah harus berubah dari orientasi program ke *Gerakan untuk mengerem laju perusakan.*
  Demikian juga cara pikir pemerintah dimana pinggir sungai dibeton (normalisasi sungai) yang sebenarnya merusak sungai. Juga pantai dan pesisir diuruk untuk membuat jeti, sesuai keinginan konstruksi. Itu semua tidak sustainable.
     Pengendalian banjir dapat dilakukan melalui pengelolaan daerah hulu terdiri atas *Reboisasi* dan *Konservasi Hutan*, pengelolaan dan konservasi lahan pertanian-perkebunan, serta konservasi alur sungai, danau, dan embung, baik ukuran kecil maupun besar.  Konsepnya adalah menahan air di hulu. Bangun kemauan bersama pengambil kebijakan, kerja sama antara departemen dengan melibatkan seluruh masyarakat.
      Diprediksi banjir di seluruh Indonesia akan terus terjadi dalam 5-10 tahun mendatang, sebab banjir diinisiasi oleh gempa. Gempa bumi akan diikuti banjir bandang dan banjir lumpur. Rentetan bencana berikutnya; banjir terjadi saat musim hujan, kekeringan terjadi saat musim kemarau, kebutuhan air terus meningkat, kesehatan masyarakat menurun karena kekurangan air bersih, problem masyarakat pesisir akibat  abrasi pantai, serta di pegunungan terjadi longsor dan erosi.
     Ada *5 konsep restorasi sungai* untuk meningkatkan eksistensi dan mengembalikan esensi sungai. Yakni, restorasi hidrologi, ekologi, morfologi, sosial ekonomi, serta kelembagaan/peraturan. Hidrologi untuk memantau kuantitas dan kualitas air. Ekologi lewat pemantauan flora fauna sungai. Morfologi meninjau bentuk keaslian sungai. Restorasi sosial ekonomi untuk melihat manfaat sungai bagi masyarakat, dan restorasi kelembagaan fokus membuat aturan pelestarian sungai.
     Gerakan Memanen Air Hujan. Hujan adalah air yang paling bersih di dunia karena air hujan adalah hasil destilasi air laut. Memanen air hujan itu istilah lain dari mengelola. Bagaimana saat hujan air bisa kita tangkap dan tampung untuk kebutuhan mandi, cuci, dan sebagainya. Kelebihannya, kita masukkan ke dalam tanah untuk mengisi air tanah.
     Air hujan sebagai satu-satunya sumber air bersih manusia, saat ini mayoritas dibiarkan langsung mengalir ke laut karena resapan yang sudah sangat minim. Hutan di hulu sebagai penyimpan air bersih raksasa pun makin gundul karena aktivitas manusia.
     Kalau setiap orang melakukan *memanen air hujan* maka sebenarnya dia sudah terhindar dari kekeringan karena kualitas air hujan untuk minum bagus, kebutuhan air yang lain juga bagus, dan mengisi air tanah juga bagus.
     Kita tidak akan kekeringan karena sudah menampung di dalam tanah dengan SUMUR RESAPAN yang meng-injeksi langsung ke dalam tanah. Dampaknya Air hujan tidak menyebabkan banjir, dan tidak menyebabkan kekeringan. Harus diupayakan agar air hujan bisa bernilai bagi semua orang.
     Di Indonesia sudah mulai ada *gerakan memanen air hujan*, namun masih banyak juga yang belum berpikir. Kalau hujan deras hanya baru melihat. Belum berpikir ini air bersih. Butuh waktu lama untuk menyadarkan orang tentang air hujan. Gerakan restorasi sungai dan memanen air hujan tidak bisa dikerjakan orang per orang atau pemerintah saja. Urusan air itu, urusan kita bersama.
  Di sejumlah titik di Jakarta dan Yogyakarta, laju penurunan muka air tanah setiap tahun mencapai 10-11 cm. Kebutuhan air bersih, baik rumah tangga, perkantoran, mal, hotel, dan semua entitas ekonomi yang sangat padat di perkotaan, sebagian besar hanya mengandalkan pengambilan air tanah.
  Di level perundangan, pemerintah harus segera membuat aturan koefisien bangunan dan kewajiban resapan yang harus dipunyai, terutama untuk bangunan komersial seperti mal, hotel, dan gedung perkantoran. Sementara, di level rumah tangga, penyadaran dengan teladan dan suport materi maupun pengetahuan bisa segera dimulai.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles