Oleh dr. H Minanur Rahman
Di banyak daerah, sungai sering menjadi tempat masyarakat melepas ikan sebagai bagian dari tradisi atau rasa syukur. Ember berisi ikan nila, patin, hingga lele sering terlihat dituangkan begitu saja ke aliran air. Tentu tindakan ini niatnya baik. Namun, di balik gerakan yang tampak sederhana itu, para ahli lingkungan telah lama memperingatkan adanya ancaman serius yang mengintai ekosistem sungai.
Bahaya paling besar muncul ketika spesies yang dilepas bukan ikan asli sungai tersebut. Ikan pendatang biasanya memiliki kemampuan adaptasi tinggi, pertumbuhan cepat, dan sifat agresif yang membuat mereka mendominasi ruang hidup. Mereka memakan sumber pakan yang sama dengan ikan lokal, menyebabkan spesies asli kalah bersaing.
Dalam kasus tertentu, ikan pendatang juga memangsa telur dan larva ikan lokal, mempercepat penurunan populasinya. Tanpa disadari, keanekaragaman hayati sungai pun menyusut dari tahun ke tahun.
Masalah lain datang dari penyakit. Ikan dari kolam budi daya sering membawa parasit, bakteri, atau jamur yang tak pernah ada sebelumnya di sungai. Begitu penyakit itu masuk ke populasi ikan liar, penyebarannya nyaris mustahil dikendalikan.
Banyak pemancing di berbagai daerah pernah mendapati ikan-ikan lokal mati mengapung tanpa sebab yang jelas—gejala yang sering dikaitkan dengan infeksi dari ikan pendatang.
Tak hanya itu, beberapa spesies yang dilepas secara sembarangan dapat mengubah struktur fisik sungai. Ada yang menggali dasar sungai saat mencari makan, membuat air menjadi keruh dan mengganggu organisme kecil yang hidup di sedimen. Kerusakan mikrohabitat ini berdampak besar pada kelangsungan organisme lain yang menjadi makanan bagi ikan asli.
Kerusakan ekosistem akibat pelepasliaran ikan sembarangan memang tidak terjadi seketika. Ia datang perlahan—sunyi, nyaris tak terlihat—hingga akhirnya sungai kehilangan spesies khasnya dan berubah menjadi perairan yang homogen-monoton.
Para ahli menegaskan jika ingin sungai tetap sehat, jangan biarkan intervensi tanpa kajian merusaknya. Melepas ikan sembarangan mungkin terlihat sebagai kebaikan, tetapi tanpa pengetahuan yang tepat, itu bisa menjadi ancaman yang merugikan generasi mendatang.
“Loh kenapa melepas ikan ke alam jadi merusak alam?”. “Kan memang ikan hidup di alam”
Tidak hanya ikan, melepas suatu hewan ke alam bebas, harus dengan pertimbangan dan ilmu pengetahuan yang cukup. Melepas ikan sembarangan ke perairan harus disertai dengan pengetahuan, seperti: apakah ikan tersebut asli perairan tersebut atau bukan?.
Jika bukan, maka ikan tersebut termasuk kedalam ikan introduksi yang invasif yang dapat merusak lingkungan perairan. Ikan introduksi dari daerah lain cenderung dapat bersaing dan memiliki ketahanan yang lebih kuat dibandingkan ikan lokal. Ditambah lagi jika ikan tersebut memiliki laju pertumbuhan dan perkembangbiakan yang cepat, sehingga dapat bersifat invasif yang mengancam populasi ikan asli perairan tersebut.
Ikan yang bersifat invasif tidak hanya ikan predator atau ikan yang memakan ikan lainnya untuk bertahan hidup. Ikan yang sekilas terlihat tidak berbahaya baik bagi manusia atau ikan lainnya pun dapat bersifat invasif, diantaranya adalah ikan sapu-sapu (Glyptoperichthys gibbiceps), ikan red devil (Amphilophus labiatus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus).
Ikan nila berasal dari Sungai Nil di Benua Afrika yang terintroduksi ke perairan Indonesia. Sifatnya yang tahan akan berbagai kondisi lingkungan dan memiliki keberagaman makanan yang luas, menjadikan ikan nila menjadi ancaman bagi ikan lainnya.
Selain itu, menurut peneliti budidaya ikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fauzan Ali yang dikutip dari artikel terbitan LIPI menyampaikan : jika ikan nila kehabisan pakan, ikan nila sangat mungkin menjadi predator memangsa ikan lainnya. Hal, tersebut tentu saja dapat mengancam ekosistem dan populasi ikan-ikan lainnya jika dilepas di perairan umum.
Selain dari proses predator, invasi ikan juga dapat terjadi karena persaingan mencari makan, tempat memijah dan persaingan lainnya. Ikan yang pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat akan mendominasi perairan tersebut, sedangkan ikan yang memiliki pertumbuhan yang lama akan tersaingi.
Selain itu beberapa spesies ikan yang cenderung mudah untuk terancam populasinya, memiliki perkembangbiakan yang memerlukan waktu tertentu setiap tahunnya atau jumlah anak/telur yang dikeluarkan sedikit.
Kegiatan budidaya ikan memegang peranan besar bagi introduksi ikan asing pada suatu daerah. Tidak sedikit ikan asing yang didatangkan untuk dibudidaya dan sukses dibudidayakan di Indonesia baik untuk konsumsi maupun ikan hias.
Beberapa ikan introduksi yang umum dibudidayakan dan telah menjadi masalah pada beberapa perairan adalah ikan Nila (Oreochromis niloticus), Bawal (Colossoma macropomum) dan Patin (Pangasius hypopthalmus).
Ikan-ikan tersebut selama tidak terlepas ke perairan umum maka tidak masalah, namun masalah terjadi ketika ikan tersebut tidak sengaja atau sengaja lepas ke perairan umum. Selain ikan nila, ikan bawal memiliki sifat yang dapat mengancam ikan asli suatu perairan. Ikan bawal memiliki gigi yang tajam dan cenderung agresif.(AM)



